Part of Life; Sumpah Serapah.

Part of life; kita tidak akan selalu menjadi sumber bahagia bagi orang lain. Bisa jadi, suatu waktu kita akan menjadi sumber luka bagi orang lain. Tanpa kita mau, tanpa kita rencanakan, tanpa kita bayangkan sebelumnya, atas kehendak Tuhan dan semesta, jika itu harus terjadi, maka siapa yang dapat berkelit?

Persis seperti yang Ahna alami, bagi orang lain, Ahna sudah membuat keputusan yang tentunya menyakiti dan merugikan orang lain. Padahal hal itu selaras dengan perasaanya di lima bulan terakhir ini. Bukan hanya satu hati yang patah dan terluka, Ahna juga tercekik oleh keputusannya sendiri. Ia kalah dan hampir dibunuh oleh keputus asaan.


Lagi pula, siapa yang tega mengakhiri hubungan yang telah berlangsung 6 tahun lamanya? Kata mereka, ada. Iya, itu Ahna, si perempuan yang paling tidak mensyukuri takdir.

Perempuan yang rupanya biasa saja, namun berlagak paling sempurna dengan melepaskan pria yang dipuji banyak kepala. Karena kebaikan, keshalehan, ketampanan, dan kesederhanannya. Sungguh perempuan bodoh dan tidak beruntung dia, kutuk mereka. Ya, perempuan seperti itu tidak akan menemukan pria sesempurna mantannya, kata mereka lagi. Memang dia siapa, dari keluarga berada?, Memang dia secantik apa?, Ohh mungkin standar keluarganya ketinggian. Lihat saja, pria mana yang akan menikahinya, dia saja sudah tidak mau bersyukur pada apa yang sudah ada di depan matanya, kutuknya lagi. 


Seeemakin banyak sumpah serapah itu dilontarkan, dan kesalahpahaman mengukung pikiran mereka tanpa mau mencari tahu kebenarannya.

*Tarik napas.

Tapi apakah salah, jika Ahna mengikuti kata hatinya yang berani berucap setelah melihat sekitarnya?

Ahna pernah membaca, bahwa salah satu kelemahan wanita ada pada perasaannya. Ahna sudah tahu bahwa dia akan gila dengan perasaannya. Ia akan depresi melihat betapa ia telah banyak disumpahi oleh mulut-mulut yang merasa paling benar itu. Ia juga kehilangan tulisan yang ia imajinasikan untuk dirinya sendiri di depan nanti.


"Teruslah merasa paling tersakiti, wanita bodoh!"

"Nyesel kan kamu gak nikah sama dia?"

"Pendamping mantanmu kini lebih sempurna, bahkan lebih baik dari kamu"

"Syukur deh, pria itu tidak menikahi si Ahna, rupa nya bikin orang lain muak"

"Cantikan yang ini, lebih anggun dan shaleha"

"Ga cocok emang sama si cewe burik itu"

"Tuhan itu Maha Adil, dia bukan yang terbaik untuk kamu. Kamu sholeh, dia jauh dari kata taat"


Episode banding-membandingkan itu juga tidak kunjung reda. Semakin ia banyak menemui sepasang mata, semakin banyak mulut yang membandingkan dan meremehkan. Semakin goyah pula prinsip Ahna. Ia memang tidak tahan dengan omongan orang lain.

Benteng yang ia bangun dirobohkan berkali-kali, Ahna merasa ia sudah cukup jauh Ahna dengan Tuhannya. Tidak heran jika ia terus terombang-ambing dengan hasil keputusannya itu. 


Kata orang, dalam kejadian seperti ini. Hanya satu pihak yang akan hidup bahagia. Sisanya? Menderita. Yang melakukan kesalahan, itu yang akan kalah. Ahna masih trauma untuk memutuskan hal-hal besar dan serius, 183 hari tidak ada hari tanpa menangis, walaupun bukan air mata yang jatuh. Dalam lamun ia menangis, bukan menyesali keputusan yang tidak dapat bersamanya, ia menangisi 2190 yang sudah dilewati.


Ahna berpikir Tuhan jahat?

Hm, Ahna pernah berpikiran sempit dengan mengutuki takdirnya.

Komentar